Saturday, February 2, 2008

Tenaga Kerja

Pada tahun 2007 Indonesia mengekspor 550 ribu TKI (tenaga kerja Indonesia) ke berbagai negara. Angka ini lebih sedikit dari target yang ditetapkan pemerintah, yakni 750 ribu orang. Dari segi devisa, tahun lalu mereka menyumbangkan devisa tidak kurang dari Rp 70 triliun (Jawa Pos, 30 Desember 2007). Namun demikian, di tengah gercarnya upaya pemerintah dan swasta (PJTKI) mengekspor TKI, termasuk tenaga kerja wanita (TKW), ternyata menyisakan sederet masalah yang panjang. Di samping masih tingginya kasus penganiayaan (pada tahun 2007 terdapat 1.135 kasus penganiayaan TKI/TKW), program pengadaan TKI/TKW ternyata juga mengakibatkan terlantarnya keluarga TKI/TKW di kampung halaman, khususnya anak anak mereka.

Satu hal yang perlu mendapat perhatian kita bersama, khususnya pemerintah, adalah kondisi pendidikan para anak TKI/TKW setelah ditinggal orang tuanya merantau menjadi TKI/TKW. Tulisan ini dibuat dalam rangka memaparkan sebagian dampak buruk program pengerahan TKI/TKW, khususnya pendidikan anak anak TKI/TKW. Tulisan ini hasil penelitian Eko Sulistyawan di SMP Negeri 2 Ampelgading, Kabupaten Malang. Sekolah yang cukup terpencil di lereng Gunung Semeru ini berada di salah satu basis penghasil TKI/TKW. Sampel yang digunakan oleh saudara Eko Sulistyawan adalah anak anak TKI/TKW.

Eko Sulistyawan memberikan kuosioner kepada para siswa kelas VII, VIII dan IX. Dari 161 total siswa, terdapat 76 siswa yang memiliki keluarga sebagai TKI/TKW di luar negeri (47 persen). Dari 76 siswa ini, terdapat 55 siswa yang keluarganya menggantungkan pendapatannya pada ayah, ibu dan atau kakak kandungnya sebagai TKI/TKW (34 persen).Tentunya jumlah di atas tidak mewakili semua pekerja TKI / TKW yang ada di daerah ini. Masih banyak anak TKI/TKW di daerah ini yang belum memasuki bangku SMP, khususnya SMPN 2 Ampelgading. Tulisan ini memang sengaja disajikan sebagai salah satu bentuk upaya peneliti dalam berbagi pengalaman (sharing) dengan rekan sejawat di daerah lain yang mungkin mengalami kondisi yang sama.Namun demikian, tulisan ini tidak hendak membandingkan kemampuan intelektual anak TKI/TKW ini. Hal ini karena kemampuan intelektual seseorang adalah given (anugerah) dari Tuhan dan menjadi blue print masing masing orang, walaupun hal itu sangat tergantung pada effort (upaya) dan will (kemauan) dari yang bersangkutan. Dalam tulisan ini peneliti lebih tertarik untuk mengamati faktor lainnya yang secara tidak langsung mempengaruhi kualitas pendidikan mereka, yaitu motivasi belajar dan psikologis anak-anak TKI/TKW dalam menatap masa depan.

Dari 76 responden yang merupakan anak TKI/TKW, lebih dari 72 persen menganggap bahwa pekerjaan TKI/TKW adalah pekerjaan yang biasa-biasa saja. Artinya, sama saja dengan pekerjaan lain di sektor nonformal seperti petani, sopir, pedagang pasar dan sebagainya. Namun, 20 persen responden menganggap bahwa TKI/TKW merupakan pekerjaan yang menakutkan, bahkan menimbulkan trauma. Hal tersebut mereka alami langsung dan menjadi pengalaman pahit tersendiri. Kelompok inilah yang nantinya membutuhkan perhatian khusus para guru, karena rata rata kondisi kejiwaan mereka lebih labil. Bila tidak tertangani dengan baik, mereka akan lebih trauma. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, mereka dapat merugikan rekan rekan siswa lainnya.Selain itu, lebih dari 95 persen responden merasakan kurangnya kasih sayang dan perhatian dari orang tua dan keluarga lain yang menjadi TKI/TKW. Bahkan, peneliti sempat dikejutkan oleh sikap seorang responden yang ibunya menjadi TKW dan ayahnya diketahui selingkuh dengan wanita lain. Dia sempat mau menangis ketika disodori kuosioner berisi kesan dan perasaan hati seorang anak bila ditinggal orang tuanya menjadi TKI/TKW.Kurangnya perhatian dan kasih sayang inilah yang menjadi penyebab utama para anak TKI/TKW lebih labil kejiwaannya. Kepergian orang tua mereka sebagai TKI/TKW berlangsung dalam waktu yang lama (2 - 10 tahun).Oleh karena itu, maka kebutuhan batin mereka sebagai manusia yang haus akan kasih sayang tidak dapat mereka sembunyikan. Peneliti juga menjumpai seorang anak laki-laki yang terkenal sebagai trouble maker di kelas, justru matanya berkaca kaca ketika harus menjawab kuosioner dengan pertanyaan: Apa yang kamu rasakan selama ditinggal orang tua (ibu) menjadi TKI/TKW? Bahkan, pada 14 Januari 2008 lalu, seorang anak kelas IX izin tidak ikut ujian semester karena sedang menjemput jenazah ibunya yang meninggal sebagai TKW di Arab Saudi.

Pembaca bisa bayangkan bagaimana kejiwaan sang anak, setelah bertahun tahun ditinggal sang ibu, lalu tiba-tiba orang yang dia harapkan kehadirannya datang dalam keadaan tak bernyawa. Cita-cita Anak TKI/TKWSetiap orang pasti mempunyai cita-cita. Sebab, tanpa cita cita kita seperti jasad hidup tanpa makna. Namun, tidak demikian dengan sebagian anak-anak TKI /TKW. Dari 76 responden yang peneliti temui, 28 siswa (37 persen) tidak mempunyai cita-cita. Ketika ditanya, setelah SMP apa yang mau dilakukan, mereka menjawab tidak tahu, atau berhenti sekolah, dan kerja. Pada awal semester lalu, ada seorang anak yang ayah dan ibunya menjadi TKI/TKW memutuskan untuk berhenti sekolah. Padahal, di telah menginjak kelas IX yang sebentar lagi akan lulus SMP. Ketika pihak sekolah menanyakan mengapa ia berhenti sekolah, dengan santai ia menjawab sudah tidak punya minat lagi untuk sekolah. Jangankan punya cita cita tinggi, apa yang akan dilakukan esokpun mereka tidak tahu, dan tidak ingin tahu.

No comments: