Thursday, March 6, 2008
Pendidikan TKI di Malaysia
Analis Kebijakan Migrant Care Wahyu Susilo mengatakan 350 ribu anak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Sabah, Malaysia Timur tidak bisa mendapatkan akses pendidikan. Karena orang tua mereka tidak berdokumen dan si anak tidak memiliki kewarganegaraan. "Malaysia punya aturan, anak-anak TKI yang tak berdokumen kehilangan hak atas kesehatan dan pendidikan," kata dia kepada Tempo melalui telepon, Kamis. Jumlah anak-anak TKI di Sabah mencapai ratusan ribu, Wahyu melanjutkan, karena para TKI di sana umumnya menetap, berkeluarga, dan mendapatkan anak di Malaysia. Kondisi tersebut berbeda dengan di Arab Saudi dan Malaysia semenanjung yang menerapkan sistem kontrak 2-3 tahun. “Jumlah anak-anak di sana hanya berkisar lima hingga 10 ribuan.” Menurut Wahyu, Migrant Care telah meminta pemerintah mengirimkan fasilitas pendidikan dan kesehatan ke Sabah, namun sampai sekarang belum ada implementasinya. Kemungkinan, guru dari Indonesia tidak siap untuk mengajar anak TKI di Malaysia, “atau pemerintah Malaysia tak mau membuka pintu."Pada akhir 2006, Wakil Presiden Jusuf Kalla pernah membahas masalah ini dengan koleganya dari Malaysia Dato' Sri Muhamad Najib Tun Abdul Razak. Waktu itu Kalla hanya menyebut jumlah anak-anak TKI yang membutuhkan pendidikan dasar 20 ribu orang. "Saya mengharapkan mereka kembali sekolah di sekolah-sekolah milik kerajaan," ujar Kalla. Malaysia akan mempertimbangkan usulan itu. Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa telah mengganggarkan dana APBN Perubahan 2007 sebesar Rp 25 miliar untuk meningkatkan pelayanan pendidikan anak-anak Indonesia di luar negeri, khususnya anak-anak TKI yang sangat sulit mendapat pendidikan. Menurut Direktur Pembinaan Sekolah Luar Biasa pada Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Eko Djatmiko Sukarso, pendirian sekolah selain terbentur soal dana umumnya terkendala oleh aturan negara bersangkutan yang melarang berdirinya sekolah-sekolah asing. Menurut Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indoesia (BNP2TKI) Jumhur Hidayat masalah pendidikan bagi anak-anak TKI akan kembali dibicarakan dalam pertemuan informal tahunan antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan Perdana Menteri Abdullah Ahmad Badawi di Kuala Lumpur, 11-12 Januari. “Soal pendidikan anak-anak TKI diusahakan agar bisa bersekolah di Malaysia,” katanya. Selain itu, Indonesia juga akan mengusulkan agar proses hukum yang melibatkan TKI dapat lebih cepat. Lamanya proses hukum itu antara lain harus dijalani Nirmala Bonat, Tenaga kerja asal Desa Tuapakas, Kecamatan Kualin, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur yang dianiaya majikannya, Yim Pek Ha. Meski kasus itu terungkap pada 2004 lalu, tapi persidangan baru dimulai 3 Januari lalu. Menurut Eka Aryanto Suripto, juru bicara Kedutaan Besar RI di Malaysia, prosedur hukum di Malaysia biasanya butuh waktu 5 sampai 7 tahun untuk menuntaskan suatu kasus.
Tuesday, February 5, 2008
Kerja Resmi Ke Korea
Bagaimana cara mendaftar untuk menjadi TKI ke Korea program Resmi Pemerintah RI dengan Korea (G to G = Government to Government) ? Mulai tanggal 1 Januari 2007 yang dapat menempatkan TKI bekerja ke Korea hanya dilakukan oleh Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI) dengan persyaratan antara lain harus mempunyai kemampuan bahasa Korea yang dibuktikan dengan sertifikat Lulus Test Kemampuan Bahasa Korea (KLPT), bisa diikuti di BLK yang ditunjuk oleh Depnaker di tiap kabupaten/kotamadya, selanjutnya mengisi formulir pendaftaran dan melampirkan persyaratan.
Berapakah biaya untuk mengambil formulir pendaftaran ? Untuk mengambil formulir pendaftaran TKI ke Korea program G to G dapat dilakukan di Kantor BP2TKI yang ditunjuk atau BNP2TKI dengan ketentuan :
1. Menunjukkan asli Sertifikat lulus KLPT yang bersangkutan yang masih berlaku.
2. Menunjukan asli kartu identitas diri KTP/SIM yang bersangkutan.
3. Tidak dapat diwakilkan.
4. Tidak dipungut biaya (gratis).
Jadi untuk mengambil formulir tidak dipungut biaya (gratis), atau dapat melalui down load www.bnp2tki.go.id. dengan pasword nomor ujian KLPT.
Apakah sending (pengiriman) data TKI ke Korea harus bayar ? Untuk dapat disending tentunya harus mengirimkan berkas lamaran yaitu Formulir pendaftaran yang sudah diisi lengkap dengan melampirkan persyaratan :
1. Foto copy KTP yang masih berlaku;
2. Foto copy KK;
3. Foto copy ijasah pendidikan terakhir;
4. Foto copy sertifikat lulus KLPT;
5. Foto Copy Paspor;
6. Pas foto berwarna ukuran 3 x 4 cm;
7. Asli Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) dari Polisi domisili calon TKI;
8. Asli Surat Medical Checkup dari Rumah Sakit/Klinik yang ditunjuk (termasuk batas pandang dan buta warna);
9. Asli Tanda bukti pendaftaran sebagai pencari kerja dari Dinas Kab./Kota (Kartu AK I).
10. Asli Surat Ijin dari :
- Orang tua bagi yang belum keluarga; atau
- Wali bagi yang belum berkeluarga namun orang tua sudah meninggal; atau
- Suami bagi isteri yang akan bekerja ke Korea; atau
- Isteri bagi suami yang akan bekerja ke Korea.
Surat ijin tersebut harus diketahui Lurah/Kepala Desa domisili Calon TKI.
Berkas lamaran dihimpun dalam stopmap warna biru dan dimasukan ke amplop warna coklat dikirim ke PO. BOX 4451 JKTM, 12700.
Berkas lamaran yang masuk akan divalidasi dan yang memenuhi syarat dan lengkap pasti di sending dan tidak bayar (gratis).
Nama-nama Calon TKI yang disending dapat dilihat pada Website www.bnp2tki.go.id. Data ini BUKAN JAMINAN bahwa yang bersangkutan diterima bekerja di Korea.
Bagi berkas lamaran yang tidak lengkap atau tidak memenuhi syarat, akan diumumkan di website www.bnp2tki.go.id. untuk dilengkapi kekurangan persyaratannya, dan setelah itu agar pelamar mengirimkan kembali ke PO. BOX 4451 JKTM, 12700
Berapa biaya yang dibutuhkan untuk dapat diterbitkannya Standar Labor Contract (SLC) atau Surat Kontrak Kerja ? Setelah data disending/dikirim ke Korea diberikan waktu 1 (satu) tahun untuk ditawarkan kepada pengguna/perusahaan di Korea. Jika nama-nama terpilih oleh perusahaan, maka akan diterbitkan SLC yang dapat dilihat di website www.bnp2tki.go.id., tidak dipungut biaya (gratis) selanjutnya perusahaan akan mengurus calling visa. Jadi jika terpilih oleh perusahaan adalah merupakan usaha Saudara sendiri.
Jika dalam 1 (satu) tahun nama-nama belum terpilih oleh perusahaan di Korea, maka secara otomatis nama-nama akan terhapus dari sistem data base, dan calon TKI dinyatakan gugur. Jika calon TKI masih berminat untuk bekerja di Korea, dapat mendaftar kembali dengan mengikuti seluruh proses.
Berapakah biaya yang dibutuhkan untuk mendapatkan CCVI (Calling Visa) ? Untuk mengetahui terbitnya Calling Visa, anda tidak perlu membayar biaya apapun, karena calling visa (CCVI) telah diurus oleh perusahaan di Korea. Saudara akan dikenakan biaya untuk pengurusan Visa di Kedutaan Korea Jakarta dengan biaya sebesar Rp. 480.000,- (Apply Visa) yang dibayarkan pada saat mengikuti Preliminary Training.
Kapan berangkat kerja ke Korea dan berapa biayanya ? Saudara akan mendapat surat panggilan dari BNP2TKI yang isinya memberitahukan bahwa Saudara harus melengkapi dokumen yang diperlukan untuk berangkat kerja ke Korea dengan melengkapi pasport dan medical chek up pada rumah sakit yang ditunjuk dan saudara diminta untuk mempersiapkan uang sebesar kurang lebih Rp. 5.455.000,- (lima juta empat ratus lima puluh lima ribu rupiah) untuk kepentingan diri sendiri, yaitu membayar tiket pesawat, pengurusan visa di Kedutaan Korea di Jakarta, Preliminary Training, Asuransi, airport tax, uniform, dan biaya transport dari asrama ke bandara.
Jadi untuk bekerja ke Korea diperlukan biaya
sebesar + Rp. 5.455.000,-
(lima juta empat ratus lima puluh lima ribu rupiah)
Siapakah yang dapat dihubungi untuk meminta informasi tentang penempatan TKI ke Korea program G to G ? Untuk mendapatkan informasi yang jelas agar Saudara menghubungi BNP2TKI melalui Telepon (021) 5255733 ext 745, HP : 081316788320, 081574196526, 081806240545 atau Website www.bnp2tki.go.id.
Untuk keseluruhan proses penempatan TKI ke Korea agar Saudara tidak berhubungan dengan
CALO, SPONSOR, PL, BROKER, PT ataupun LEMBAGA yang menjanjikan dapat memberangkatkan TKI ke Korea, karena yang dapat memproses penempatan TKI ke Korea
hanya BNP2TKI melalui program G to G.
BADAN NASIONAL
PENEMPATAN DAN PERLINDUNGAN TKI
TTD
DIREKTUR
PELAYANAN PENEMPATAN PEMERINTAH
Berapakah biaya untuk mengambil formulir pendaftaran ? Untuk mengambil formulir pendaftaran TKI ke Korea program G to G dapat dilakukan di Kantor BP2TKI yang ditunjuk atau BNP2TKI dengan ketentuan :
1. Menunjukkan asli Sertifikat lulus KLPT yang bersangkutan yang masih berlaku.
2. Menunjukan asli kartu identitas diri KTP/SIM yang bersangkutan.
3. Tidak dapat diwakilkan.
4. Tidak dipungut biaya (gratis).
Jadi untuk mengambil formulir tidak dipungut biaya (gratis), atau dapat melalui down load www.bnp2tki.go.id. dengan pasword nomor ujian KLPT.
Apakah sending (pengiriman) data TKI ke Korea harus bayar ? Untuk dapat disending tentunya harus mengirimkan berkas lamaran yaitu Formulir pendaftaran yang sudah diisi lengkap dengan melampirkan persyaratan :
1. Foto copy KTP yang masih berlaku;
2. Foto copy KK;
3. Foto copy ijasah pendidikan terakhir;
4. Foto copy sertifikat lulus KLPT;
5. Foto Copy Paspor;
6. Pas foto berwarna ukuran 3 x 4 cm;
7. Asli Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) dari Polisi domisili calon TKI;
8. Asli Surat Medical Checkup dari Rumah Sakit/Klinik yang ditunjuk (termasuk batas pandang dan buta warna);
9. Asli Tanda bukti pendaftaran sebagai pencari kerja dari Dinas Kab./Kota (Kartu AK I).
10. Asli Surat Ijin dari :
- Orang tua bagi yang belum keluarga; atau
- Wali bagi yang belum berkeluarga namun orang tua sudah meninggal; atau
- Suami bagi isteri yang akan bekerja ke Korea; atau
- Isteri bagi suami yang akan bekerja ke Korea.
Surat ijin tersebut harus diketahui Lurah/Kepala Desa domisili Calon TKI.
Berkas lamaran dihimpun dalam stopmap warna biru dan dimasukan ke amplop warna coklat dikirim ke PO. BOX 4451 JKTM, 12700.
Berkas lamaran yang masuk akan divalidasi dan yang memenuhi syarat dan lengkap pasti di sending dan tidak bayar (gratis).
Nama-nama Calon TKI yang disending dapat dilihat pada Website www.bnp2tki.go.id. Data ini BUKAN JAMINAN bahwa yang bersangkutan diterima bekerja di Korea.
Bagi berkas lamaran yang tidak lengkap atau tidak memenuhi syarat, akan diumumkan di website www.bnp2tki.go.id. untuk dilengkapi kekurangan persyaratannya, dan setelah itu agar pelamar mengirimkan kembali ke PO. BOX 4451 JKTM, 12700
Berapa biaya yang dibutuhkan untuk dapat diterbitkannya Standar Labor Contract (SLC) atau Surat Kontrak Kerja ? Setelah data disending/dikirim ke Korea diberikan waktu 1 (satu) tahun untuk ditawarkan kepada pengguna/perusahaan di Korea. Jika nama-nama terpilih oleh perusahaan, maka akan diterbitkan SLC yang dapat dilihat di website www.bnp2tki.go.id., tidak dipungut biaya (gratis) selanjutnya perusahaan akan mengurus calling visa. Jadi jika terpilih oleh perusahaan adalah merupakan usaha Saudara sendiri.
Jika dalam 1 (satu) tahun nama-nama belum terpilih oleh perusahaan di Korea, maka secara otomatis nama-nama akan terhapus dari sistem data base, dan calon TKI dinyatakan gugur. Jika calon TKI masih berminat untuk bekerja di Korea, dapat mendaftar kembali dengan mengikuti seluruh proses.
Berapakah biaya yang dibutuhkan untuk mendapatkan CCVI (Calling Visa) ? Untuk mengetahui terbitnya Calling Visa, anda tidak perlu membayar biaya apapun, karena calling visa (CCVI) telah diurus oleh perusahaan di Korea. Saudara akan dikenakan biaya untuk pengurusan Visa di Kedutaan Korea Jakarta dengan biaya sebesar Rp. 480.000,- (Apply Visa) yang dibayarkan pada saat mengikuti Preliminary Training.
Kapan berangkat kerja ke Korea dan berapa biayanya ? Saudara akan mendapat surat panggilan dari BNP2TKI yang isinya memberitahukan bahwa Saudara harus melengkapi dokumen yang diperlukan untuk berangkat kerja ke Korea dengan melengkapi pasport dan medical chek up pada rumah sakit yang ditunjuk dan saudara diminta untuk mempersiapkan uang sebesar kurang lebih Rp. 5.455.000,- (lima juta empat ratus lima puluh lima ribu rupiah) untuk kepentingan diri sendiri, yaitu membayar tiket pesawat, pengurusan visa di Kedutaan Korea di Jakarta, Preliminary Training, Asuransi, airport tax, uniform, dan biaya transport dari asrama ke bandara.
Jadi untuk bekerja ke Korea diperlukan biaya
sebesar + Rp. 5.455.000,-
(lima juta empat ratus lima puluh lima ribu rupiah)
Siapakah yang dapat dihubungi untuk meminta informasi tentang penempatan TKI ke Korea program G to G ? Untuk mendapatkan informasi yang jelas agar Saudara menghubungi BNP2TKI melalui Telepon (021) 5255733 ext 745, HP : 081316788320, 081574196526, 081806240545 atau Website www.bnp2tki.go.id.
Untuk keseluruhan proses penempatan TKI ke Korea agar Saudara tidak berhubungan dengan
CALO, SPONSOR, PL, BROKER, PT ataupun LEMBAGA yang menjanjikan dapat memberangkatkan TKI ke Korea, karena yang dapat memproses penempatan TKI ke Korea
hanya BNP2TKI melalui program G to G.
BADAN NASIONAL
PENEMPATAN DAN PERLINDUNGAN TKI
TTD
DIREKTUR
PELAYANAN PENEMPATAN PEMERINTAH
Sunday, February 3, 2008
The Best Manpower
How do you choose the best manpower for your agency to look for job?
I would recommend the best manpower because it takes the time to visit the client, discuss the role in situ, carefully interview prospective candidates and present you with a short list from which to work. This saves the client time in reviewing candidates, whom the best manpower have already groomed for the role.
I would recommend the best manpower because of its ability to respond quickly and professionally to the demands of their clients. The best manpower takes the time to understand the needs of our business and consistently delivers candidates closely matching out requirements.
The company has developed a strong working relationship with the best manpower which has proved extremely beneficial to us in ensuring we recruit the best calibre staff, from clerical level to qualified Accountants. The best manpower service is of the highest standard, they have maintained a good understanding of our business and the implication that this has had on our recruitment needs.
Over the years the best manpower have proven time and time again their ability to source high quality accountancy staff in an efficient and effective manner. It is refreshing to deal with a consultancy who have a genuine desire to keep up to date with our business developments and to work with us on our current and future requirements.
Thank you for the best manpower help in recruiting everyone into company team. They have proved to be an invaluable asset to company business, immediately taking on full responsibility for the day to day running of Accounts office and working superbly with Accountants. Following another successful placement one of our worker has once again proven that he offers this business with a considered, impartial and efficient recruitment service. He has consistently delivered detailed feedback, honest market appraisals and genuinely seems to place Budgets best interest in the scope of his role. It's a pleasure to work with his daily, not least as his calm and friendly approach offers a mutually beneficial working style which delivers the right people at the right time.
I would recommend the best manpower because it takes the time to visit the client, discuss the role in situ, carefully interview prospective candidates and present you with a short list from which to work. This saves the client time in reviewing candidates, whom the best manpower have already groomed for the role.
I would recommend the best manpower because of its ability to respond quickly and professionally to the demands of their clients. The best manpower takes the time to understand the needs of our business and consistently delivers candidates closely matching out requirements.
The company has developed a strong working relationship with the best manpower which has proved extremely beneficial to us in ensuring we recruit the best calibre staff, from clerical level to qualified Accountants. The best manpower service is of the highest standard, they have maintained a good understanding of our business and the implication that this has had on our recruitment needs.
Over the years the best manpower have proven time and time again their ability to source high quality accountancy staff in an efficient and effective manner. It is refreshing to deal with a consultancy who have a genuine desire to keep up to date with our business developments and to work with us on our current and future requirements.
Thank you for the best manpower help in recruiting everyone into company team. They have proved to be an invaluable asset to company business, immediately taking on full responsibility for the day to day running of Accounts office and working superbly with Accountants. Following another successful placement one of our worker has once again proven that he offers this business with a considered, impartial and efficient recruitment service. He has consistently delivered detailed feedback, honest market appraisals and genuinely seems to place Budgets best interest in the scope of his role. It's a pleasure to work with his daily, not least as his calm and friendly approach offers a mutually beneficial working style which delivers the right people at the right time.
Saturday, February 2, 2008
Tenaga Kerja
Pada tahun 2007 Indonesia mengekspor 550 ribu TKI (tenaga kerja Indonesia) ke berbagai negara. Angka ini lebih sedikit dari target yang ditetapkan pemerintah, yakni 750 ribu orang. Dari segi devisa, tahun lalu mereka menyumbangkan devisa tidak kurang dari Rp 70 triliun (Jawa Pos, 30 Desember 2007). Namun demikian, di tengah gercarnya upaya pemerintah dan swasta (PJTKI) mengekspor TKI, termasuk tenaga kerja wanita (TKW), ternyata menyisakan sederet masalah yang panjang. Di samping masih tingginya kasus penganiayaan (pada tahun 2007 terdapat 1.135 kasus penganiayaan TKI/TKW), program pengadaan TKI/TKW ternyata juga mengakibatkan terlantarnya keluarga TKI/TKW di kampung halaman, khususnya anak anak mereka.
Satu hal yang perlu mendapat perhatian kita bersama, khususnya pemerintah, adalah kondisi pendidikan para anak TKI/TKW setelah ditinggal orang tuanya merantau menjadi TKI/TKW. Tulisan ini dibuat dalam rangka memaparkan sebagian dampak buruk program pengerahan TKI/TKW, khususnya pendidikan anak anak TKI/TKW. Tulisan ini hasil penelitian Eko Sulistyawan di SMP Negeri 2 Ampelgading, Kabupaten Malang. Sekolah yang cukup terpencil di lereng Gunung Semeru ini berada di salah satu basis penghasil TKI/TKW. Sampel yang digunakan oleh saudara Eko Sulistyawan adalah anak anak TKI/TKW.
Eko Sulistyawan memberikan kuosioner kepada para siswa kelas VII, VIII dan IX. Dari 161 total siswa, terdapat 76 siswa yang memiliki keluarga sebagai TKI/TKW di luar negeri (47 persen). Dari 76 siswa ini, terdapat 55 siswa yang keluarganya menggantungkan pendapatannya pada ayah, ibu dan atau kakak kandungnya sebagai TKI/TKW (34 persen).Tentunya jumlah di atas tidak mewakili semua pekerja TKI / TKW yang ada di daerah ini. Masih banyak anak TKI/TKW di daerah ini yang belum memasuki bangku SMP, khususnya SMPN 2 Ampelgading. Tulisan ini memang sengaja disajikan sebagai salah satu bentuk upaya peneliti dalam berbagi pengalaman (sharing) dengan rekan sejawat di daerah lain yang mungkin mengalami kondisi yang sama.Namun demikian, tulisan ini tidak hendak membandingkan kemampuan intelektual anak TKI/TKW ini. Hal ini karena kemampuan intelektual seseorang adalah given (anugerah) dari Tuhan dan menjadi blue print masing masing orang, walaupun hal itu sangat tergantung pada effort (upaya) dan will (kemauan) dari yang bersangkutan. Dalam tulisan ini peneliti lebih tertarik untuk mengamati faktor lainnya yang secara tidak langsung mempengaruhi kualitas pendidikan mereka, yaitu motivasi belajar dan psikologis anak-anak TKI/TKW dalam menatap masa depan.
Dari 76 responden yang merupakan anak TKI/TKW, lebih dari 72 persen menganggap bahwa pekerjaan TKI/TKW adalah pekerjaan yang biasa-biasa saja. Artinya, sama saja dengan pekerjaan lain di sektor nonformal seperti petani, sopir, pedagang pasar dan sebagainya. Namun, 20 persen responden menganggap bahwa TKI/TKW merupakan pekerjaan yang menakutkan, bahkan menimbulkan trauma. Hal tersebut mereka alami langsung dan menjadi pengalaman pahit tersendiri. Kelompok inilah yang nantinya membutuhkan perhatian khusus para guru, karena rata rata kondisi kejiwaan mereka lebih labil. Bila tidak tertangani dengan baik, mereka akan lebih trauma. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, mereka dapat merugikan rekan rekan siswa lainnya.Selain itu, lebih dari 95 persen responden merasakan kurangnya kasih sayang dan perhatian dari orang tua dan keluarga lain yang menjadi TKI/TKW. Bahkan, peneliti sempat dikejutkan oleh sikap seorang responden yang ibunya menjadi TKW dan ayahnya diketahui selingkuh dengan wanita lain. Dia sempat mau menangis ketika disodori kuosioner berisi kesan dan perasaan hati seorang anak bila ditinggal orang tuanya menjadi TKI/TKW.Kurangnya perhatian dan kasih sayang inilah yang menjadi penyebab utama para anak TKI/TKW lebih labil kejiwaannya. Kepergian orang tua mereka sebagai TKI/TKW berlangsung dalam waktu yang lama (2 - 10 tahun).Oleh karena itu, maka kebutuhan batin mereka sebagai manusia yang haus akan kasih sayang tidak dapat mereka sembunyikan. Peneliti juga menjumpai seorang anak laki-laki yang terkenal sebagai trouble maker di kelas, justru matanya berkaca kaca ketika harus menjawab kuosioner dengan pertanyaan: Apa yang kamu rasakan selama ditinggal orang tua (ibu) menjadi TKI/TKW? Bahkan, pada 14 Januari 2008 lalu, seorang anak kelas IX izin tidak ikut ujian semester karena sedang menjemput jenazah ibunya yang meninggal sebagai TKW di Arab Saudi.
Pembaca bisa bayangkan bagaimana kejiwaan sang anak, setelah bertahun tahun ditinggal sang ibu, lalu tiba-tiba orang yang dia harapkan kehadirannya datang dalam keadaan tak bernyawa. Cita-cita Anak TKI/TKWSetiap orang pasti mempunyai cita-cita. Sebab, tanpa cita cita kita seperti jasad hidup tanpa makna. Namun, tidak demikian dengan sebagian anak-anak TKI /TKW. Dari 76 responden yang peneliti temui, 28 siswa (37 persen) tidak mempunyai cita-cita. Ketika ditanya, setelah SMP apa yang mau dilakukan, mereka menjawab tidak tahu, atau berhenti sekolah, dan kerja. Pada awal semester lalu, ada seorang anak yang ayah dan ibunya menjadi TKI/TKW memutuskan untuk berhenti sekolah. Padahal, di telah menginjak kelas IX yang sebentar lagi akan lulus SMP. Ketika pihak sekolah menanyakan mengapa ia berhenti sekolah, dengan santai ia menjawab sudah tidak punya minat lagi untuk sekolah. Jangankan punya cita cita tinggi, apa yang akan dilakukan esokpun mereka tidak tahu, dan tidak ingin tahu.
Satu hal yang perlu mendapat perhatian kita bersama, khususnya pemerintah, adalah kondisi pendidikan para anak TKI/TKW setelah ditinggal orang tuanya merantau menjadi TKI/TKW. Tulisan ini dibuat dalam rangka memaparkan sebagian dampak buruk program pengerahan TKI/TKW, khususnya pendidikan anak anak TKI/TKW. Tulisan ini hasil penelitian Eko Sulistyawan di SMP Negeri 2 Ampelgading, Kabupaten Malang. Sekolah yang cukup terpencil di lereng Gunung Semeru ini berada di salah satu basis penghasil TKI/TKW. Sampel yang digunakan oleh saudara Eko Sulistyawan adalah anak anak TKI/TKW.
Eko Sulistyawan memberikan kuosioner kepada para siswa kelas VII, VIII dan IX. Dari 161 total siswa, terdapat 76 siswa yang memiliki keluarga sebagai TKI/TKW di luar negeri (47 persen). Dari 76 siswa ini, terdapat 55 siswa yang keluarganya menggantungkan pendapatannya pada ayah, ibu dan atau kakak kandungnya sebagai TKI/TKW (34 persen).Tentunya jumlah di atas tidak mewakili semua pekerja TKI / TKW yang ada di daerah ini. Masih banyak anak TKI/TKW di daerah ini yang belum memasuki bangku SMP, khususnya SMPN 2 Ampelgading. Tulisan ini memang sengaja disajikan sebagai salah satu bentuk upaya peneliti dalam berbagi pengalaman (sharing) dengan rekan sejawat di daerah lain yang mungkin mengalami kondisi yang sama.Namun demikian, tulisan ini tidak hendak membandingkan kemampuan intelektual anak TKI/TKW ini. Hal ini karena kemampuan intelektual seseorang adalah given (anugerah) dari Tuhan dan menjadi blue print masing masing orang, walaupun hal itu sangat tergantung pada effort (upaya) dan will (kemauan) dari yang bersangkutan. Dalam tulisan ini peneliti lebih tertarik untuk mengamati faktor lainnya yang secara tidak langsung mempengaruhi kualitas pendidikan mereka, yaitu motivasi belajar dan psikologis anak-anak TKI/TKW dalam menatap masa depan.
Dari 76 responden yang merupakan anak TKI/TKW, lebih dari 72 persen menganggap bahwa pekerjaan TKI/TKW adalah pekerjaan yang biasa-biasa saja. Artinya, sama saja dengan pekerjaan lain di sektor nonformal seperti petani, sopir, pedagang pasar dan sebagainya. Namun, 20 persen responden menganggap bahwa TKI/TKW merupakan pekerjaan yang menakutkan, bahkan menimbulkan trauma. Hal tersebut mereka alami langsung dan menjadi pengalaman pahit tersendiri. Kelompok inilah yang nantinya membutuhkan perhatian khusus para guru, karena rata rata kondisi kejiwaan mereka lebih labil. Bila tidak tertangani dengan baik, mereka akan lebih trauma. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, mereka dapat merugikan rekan rekan siswa lainnya.Selain itu, lebih dari 95 persen responden merasakan kurangnya kasih sayang dan perhatian dari orang tua dan keluarga lain yang menjadi TKI/TKW. Bahkan, peneliti sempat dikejutkan oleh sikap seorang responden yang ibunya menjadi TKW dan ayahnya diketahui selingkuh dengan wanita lain. Dia sempat mau menangis ketika disodori kuosioner berisi kesan dan perasaan hati seorang anak bila ditinggal orang tuanya menjadi TKI/TKW.Kurangnya perhatian dan kasih sayang inilah yang menjadi penyebab utama para anak TKI/TKW lebih labil kejiwaannya. Kepergian orang tua mereka sebagai TKI/TKW berlangsung dalam waktu yang lama (2 - 10 tahun).Oleh karena itu, maka kebutuhan batin mereka sebagai manusia yang haus akan kasih sayang tidak dapat mereka sembunyikan. Peneliti juga menjumpai seorang anak laki-laki yang terkenal sebagai trouble maker di kelas, justru matanya berkaca kaca ketika harus menjawab kuosioner dengan pertanyaan: Apa yang kamu rasakan selama ditinggal orang tua (ibu) menjadi TKI/TKW? Bahkan, pada 14 Januari 2008 lalu, seorang anak kelas IX izin tidak ikut ujian semester karena sedang menjemput jenazah ibunya yang meninggal sebagai TKW di Arab Saudi.
Pembaca bisa bayangkan bagaimana kejiwaan sang anak, setelah bertahun tahun ditinggal sang ibu, lalu tiba-tiba orang yang dia harapkan kehadirannya datang dalam keadaan tak bernyawa. Cita-cita Anak TKI/TKWSetiap orang pasti mempunyai cita-cita. Sebab, tanpa cita cita kita seperti jasad hidup tanpa makna. Namun, tidak demikian dengan sebagian anak-anak TKI /TKW. Dari 76 responden yang peneliti temui, 28 siswa (37 persen) tidak mempunyai cita-cita. Ketika ditanya, setelah SMP apa yang mau dilakukan, mereka menjawab tidak tahu, atau berhenti sekolah, dan kerja. Pada awal semester lalu, ada seorang anak yang ayah dan ibunya menjadi TKI/TKW memutuskan untuk berhenti sekolah. Padahal, di telah menginjak kelas IX yang sebentar lagi akan lulus SMP. Ketika pihak sekolah menanyakan mengapa ia berhenti sekolah, dengan santai ia menjawab sudah tidak punya minat lagi untuk sekolah. Jangankan punya cita cita tinggi, apa yang akan dilakukan esokpun mereka tidak tahu, dan tidak ingin tahu.
Subscribe to:
Posts (Atom)